Pancasila Sebagai Counter-Ideology Terhadap Ideologi Transnasional

Oleh:

KABAR3.com - Pada dasarnya, ideologi transnasional adalah berbagai bentuk ideologi yang bertujuan penguasaan seluruh umat manusia di seluruh dunia oleh sekelompok orang atau golongan. Landasan ideologi transnasional ini beraneka ragam, seperti sekedar nafsu untuk berkuasa atau untuk menjarah wilayah lain; keyakinan akan superioritas ras sendiri dan inferioritas ras lainnya; ambisi untuk menguasai wilayah dan sumber daya alam di negara lain; atau adanya keyakinan akan adanya missi suci untuk meyebarkan agama atau ideologi yang dianutnya ke seluruh pelosok dunia. Sudah barang tentu, agar bisa mencapai tujuannya, ideologi transnasional ini memerlukan dukungan kekuatan, baik kekuatan militer, kekuatan politik, maupun kekuatan ekonomi, dan kekuatan sosial budaya.

Ideologi transnasional ini telah berusia amat tua, dan telah menjadi faktor pendorong terjadinya berbagai bentuk konflik antar bangsa dan antar negara. Dalam konflik antar bangsa dan antar negara ini berlaku suatu “ hukum besi”, bahwa yang kuat akan mampu bertahan hidup, sedangkan yang lemah akan hancur dan lenyap, survival of the fittest.

Berbagai suku bangsa Indonesia telah menjadi korban dari berbagai variasi ideologi transnasional ini, baik yang berasal dari Timur maupun yang berasal dari Barat. Oleh karena tidak berada di bawah satu pimpinan, perlawanan suku-suku bangsa ini telah dapat dipatahkan satu demi satu, dan dalam waktu yang cukup lama, suku-suku bangsa Indonesia ini bukan saja berada di bawah kekuasaan asing, tetapi juga telah kehilangan martabat dan harga dirinya.

Secara lambat laun, sejak awal abad ke 20 telah timbul kesadaran di kalangan para pemimpin suku-suku bangsa Indonesia ini, bahwa hanya melalui persatuan dan kesatuanlah dapat penindasan asing itu dipatahkan dan kemerdekaan bisa dicapai. Peluang emas untuk merdeka terbuka pada tahun 1944-1945 di akhir Perang Dunia Kedua, yaitu sewaktu balatentara Jepang yang menduduki kepulauan Indonesia mulai mengalami kekalahan dalam pertempurannya melawan balatentara Sekutu, dan memerlukan dukungan bangsa Indonesia. Untuk itu, balatentara Jepang memberi kesempatan kepada para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia untuk mempersiapkan sebuah negara Indonesia yang merdeka.

Selama kurang lebih tiga bulan, antara bulan Mei sampai dengan Agustus 1945, dalam dua buah badan, yaitu Badan Peyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemedekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemedekaan Indonesia (PPPKI), sekitar sekitar seratus orang tokoh-tokoh pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesa secara mendalam dan mendasar membahas persiapan pembentukan sebuah negara Indonesia yang merdeka. Dengan semangat kenegarawanan yang tinggi, para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia ini bukan saja berhasil menyusun dan menyepakati sebuah Undang-Undang Dasar – yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasan – tetapi juga mengumunkan Proklamasi Kemerdekaan, yang mendapatkan dukungan yang luas dari seluruh Rakyat Indonesia.

Berita Terkait

Leave a reply