Peran Kemendikbud Untuk Menangkal Radikalisasi Melalui Jalur Pendidikan

Bahkan selain Dita,  ada sosok kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yang menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom2 teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang kalak kelas tersebut dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) untuk diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat tidak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah.

Dari penuturan si netizen tersebut dan keterlibatan anak-anak Dita sebagai eksekutor bom bunuh diri, membuktikkan bahwa sekolah rentan disusupi oleh paham radikalisme. Tidak terbayang sudah 30 tahun yang lalu paham tersebut telah menyusup dalam sekolah-sekolah. Maka tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa saat ini telah terkader banyak pengikut radikalisme melalui media sekolah.

Temuan tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh Kemendikbud sebagai penanggung jawab pendidikan di Indonesia. Untuk tahap awal, Kemendikbud harus segera menggeber program deradikalisasi di seluruh sekolah di Indonesia, dengan tujuan agar anak didik yang sudah terpapar virus radikalisme bisa diselamatkan.

Berikutnya adalah dilakukan pemetaan dan identifikasi sekolah-sekolah yang terpapar paham radikalisme. Identifikasi bisa dilakukan dengan melakukan labelisasi, untuk sekolah yang terpapar parah bisa diberi label merah, terpapar sedang label kuning, terpapar rendah label biru dan bersih dari paham radikalisme diberi label hijau.

Berita Terkait

Leave a reply