Bamsoet: Demokratisasi Harus Berpijak pada Akar Budaya Nasional

Laporan:

Kini, dia melanjutkan, demokratisasi pada semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara boleh saja terus berproses. Tetapi, semua tahapan proses demokratisasi itu tidak boleh merusak akar budaya nasional, utamanya keramahan dan kesantunan itu. Masyarakat Indonesia tidak boleh tercerabut dari akar budayanya sebagai salah satu elemen penting kehidupan.

“Kalau masyarakat dibiarkan mengingkari akar budayanya, yang akan terjadi adalah disharmoni. Masing-masing merasa paling benar dan ingin menang sendiri. Disharmoni yang berlarut-larut, apalagi jika salah kelola, akan menimbulkan kerusakan yang bisa saja sulit dikalkulasi,” jelas Bamsoet.

Bamsoet menilai, ada relevansinya jika setiap elemen masyarakat mengingatkan lagi akan pentingnya untuk selalu berpijak pada akar budaya nasional yang telah ditanamkan dari generasi ke generasi oleh para leluhur.

Lunturnya keramahan dan kesantunan sebagai ciri khas bangsa sudah dirasakan dalam satu-dua dekade terakhir. Persoalan ini bahkan sering menjadi materi obrolan di berbagai kesempatan.

“Di ruang publik, masyarakat kehilangan panutan. Akhir-akhir ini, perilaku sejumah figur publik sama sekali tidak mencerminkan sosok yang ramah dan santun. Memilih kata-kata kasar saat merilis pernyataan publik. Tak hanya menyerang komunitas atau lembaga lain, tetapi juga individu serta mempertontonkan sikap bermusuhan dan nafsu menghancurkan,” ungkapnya.

Berita Terkait

Leave a reply