Semangat Syawal di Tahun Politik

Oleh: Aboe Bakar Alhabsyi

Jakarta, Kabar3.com - Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini cukup istimewa untuk bangsa Indonesia, karena bersamaan dengan beberapa moment politik. Lebaran tahun ini berada di penghujung masa kampanye 171 Pilkada, dan berada pada awal tahapan Pileg dan Pilpres. Akibatnya, tidak dapat dihindari adanya akulturasi dari dua moment tersebut. Tidak dapat dipungkiri hal ini menimbulkan dinamika, baik yang memberikan trend positif ataupun sebaliknya.

Para kandidat kepala daerah tentunya banyak memanfaatkan moment-moment ramadhan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Mulai dari menggelar acara buka bersama, berbagi santunan, hingga berbagi parsel lebaran. Calon anggota legislatif pun mulai menebar baliho, spanduk dan iklan ucapan selamat menjalankan puasa Ramadhan hingga Idul Fitri. Tak kalah pula para calon presiden juga memasang bilboard serupa hingga melakukan berbagai safari politik ke berbagai kalangan.

Tak hanya itu, gerakan hastag #2019GantiPresiden semakin menggigit. Kaos versi mereka semakin laris manis diperdagangkan banyak orang. Demikian pula, gerakan klakson tiga kali jika setuju untuk ganti presiden pada Pilpres yang akan datang. Kelompok yang kontra dengan gerakan inipun tidak tingga diam. Mereka memasang spanduk di tol yang menyatakan bahwa tol tersebut dibangun oleh Jokowi. Meme di media sosialpun juga bertebaran, bernada menyindir agar pengikut hastag ganti presiden tidak lewat jalan tol.

Kondisi tahun politik yang sedemikian dinamis seharusnya mampu meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. Dinamika inipun seharusnya dapat dikonsolidasikan dengan baik saat memasuki bulan syawal. Karena saat masuk bulan ini, masyarakat Indonesia memiliki budaya lebaran. Yaitu peringatan hari raya Idul Fitri yang berisi kegiatan halal bi halal.

Berita Terkait

Leave a reply