Menakar Ketangguhan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019

Laporan:

Mengukur leadership Prabowo dapat dilihat dari antusiasme elit elit politik berkumpul dengannya, antusiasme massa bertemu dengannya dan bagaimana dia menjalankan organisasi politiknya, baik partai maupun jaringan. Sampai saat ini kita melihat bahwa antusiasme tokoh2 politik maupun massa begitu besar jika bertemu dengan Prabowo. Dari sisi elit, oposisi sampai saat ini tetap mengakui bahwa pemimpin utama mereka adalah Prabowo. Hal itu diperlihatkan dengan berbagai keputusan strategis, seperti urusan Pilkada dan isu usu nasional yang digulirkan (misalnya anti TKA China, kembali ke UUD45 Asli, #2019 Ganti Presiden, dll) selalu dipengaruhi sikap akhir Prabowo.

Dalam menjalankan organisasinya, Prabowo konsisten menjalankan isu isu perubahan sosial. Kritik Prabowo atas ketimpangan sosial dan kemandirian nasional konsisten sejak awal. Orang mungkin berpikir bahwa Prabowo sangat menggelikan ketika bicara kemiskinan dengan menunggang kuda mewahnya. Sepertinya ironi.

Namun, semakin banyak kelas menengah mengerti politik dan mempunyai akses media sosial, merekapun mahfum bahwa Prabowo sebenarnya dalam istilah Karl Marx sudah melakukan "bunuh diri kelas". Sebagai sosok yang merupakan keturunan Pangeran Dipanegoro, kakeknya pendiri Bank Negara Indonesia, pamannya wafat di bunuh Jepang pada masa proklamasi, dan bapaknya menteri dan arsitek politik pro pribumi Indonesia (dengan ide politik Benteng), tentunya sejak kecil Prabowo sudah berada pada lingkungan menak (anak orang kaya raya). Prabowo memikirkan rakyat miskin tentu bertentangan dengan pikiran kaum Marxis. Namun, dalam teori agama (Islam), orang kaya yang bersimpati dengan nasib kaum dhuafa tidak disebut "bunuh diri kelas", melainkan hidayah dari Allah semata.

Mungkin ada sedikit masalah dengan Prabowo, yakni mengapa seorang pemimpin "bertapa" di bukit Hambalang? Bukankah dia harus siap ketemu dengan rakyatnya setiap hari? Seperti para Nabi, misalnya?

Selama ini memang ketokohan Prabowo di  rakyat sering diwakili oleh tangan kanannya, seperti Rachmawati Soekarnoputri, Jend (p) Djoko Santoso, Letjen (p) Suryo Prabowo, Ferry Juliantono, Fadli Zon dll. Belakangan ini kelihatannya Prabowo sudah mulai banyak di markasnya di Jakarta, bukan lagi di Hambalang. Ini mungkin sebuah upaya pemaksimalan yang penting.

Berita Terkait

Leave a reply