2019 PDI-P Bisa Dikucilkan?

Laporan:

“Kalau pada Pilkada 2017-2018 saja PDI-P tersungkur di Provinsi-provinsi strategis, lalu bagaimana nasib PDI-P di Pileg 2019 nanti?,” ujar Wenry menyoal.

Tentu masih membekas dalam ingatan pada Pemilu 2004, sambungnya, Demokrat duduki peringkat 5 (lima) dengan suara 7,45 %. Tapi, pada Pemilu 2009, SBY justru mampu menyulap Demokrat meraih 25,39 %, meningkat tiga kali lipat. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari faktor daya tarik SBY yang saat itu Presiden. Situasi berbanding terbalik dengan PDI-P yang di saat Jokowi jadi Presiden, justru PDI-P tersungkur di berbagai daerah strategis dalam Pilkada serentak 2017-2018.

“Tujuan utama ‘tangan-tangan gelap’ itu untuk mengkerdilkan PDI-P supaya daya tawar terhadap Jokowi lemah. Jika Jokowi kembali memimpin untuk periode kedua, maka dapat dipastikan ‘tangan-tangan gelap’ itu tak akan sudi bila situasi di periode kedua akan sama dengan periode pertama, yaitu Jokowi dianggap ‘petugas partai’. Serta tidak menutup kemungkinan, kader-kader PDIP dalam kabinet periode kedua penempatannya akan tetap jauh dari Kementerian/Lembaga yang strategis seperti halnya pada periode pertama,” urai Wenry.

Lantas, kata dia, apa yang harus dilakukan Megawati untuk menyelamatkan partainya dari skenario pengkerdilan oleh ‘tangan-tangan gelap’ itu pada Pileg 2019? “Megawati harus berani merubah struktur dan tidak boleh takut merubah haluan politik,” tegasnya.

“Namun, jika Megawati masih merasa yakin PDI-P akan meraih kesuksesan pada Pileg 2019, tentunya saya hanya mengingatkan agar elit-elit PDI-P pro Megawati/Puan Maharani tidak kecewa berat bila PDI-P benar-benar dikerdilkan dan merosot, sehingga berpotensi menjadi Partai dengan perolehan suara peringkat 2 (dua) atau peringkat 3 (tiga),” tutup Wenry


Berita Terkait

Leave a reply