Komisi VII DPR RI : Indonesia Darurat Energi

Laporan:

Pada faktanya, kapasitas kilang dalam negeri hanya mampu mengolah minyak mentah sekitar 900.000 bbls/hari, juga terasa sangat kekurangan BBM. Sehingga pada saat yang sama harus mengimpor BBM dan juga LPG. 

Politisi dari fraksi Nasdem ini pun m menerangkan jika dengan produksi gas yang relatif stagnant sementara  konsumsi terus meningkat, indonesia akan menjadi Net Gas Importer pada tahun 2025. Sementara Batubara yang saat ini mendominasi kebutuhan energi primer sebagai bahan baku pembangkit listrik yang mencapai sekitar 73% dari produksi listrik nasional, juga cadangannya terus menyusut.

"Diperkirakan Indonesia akan menjadi Net Coal Importer pada tahun 2049. Minyak, Gas dan Batubara merupakan energi fossil yang tidak bisa diperbaharui, cepat atau lambat pasti akan habis. Sementara kebutuhan energi final, terutama untuk membentuk listrik, terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan/kemakmuran."terangnya.

Dalam hal ini, tidak ada jalan lain bagi Indonesia untuk harus secara terus menerus mendorong dan meningkatkan pengembangan, pembangunan dan produksi listrik dari sumber Energi Baru Terbarukan (EBT). Dalam terminologi energi Indonesia, yang disebut energi baru itu adalah Nuklir, Coalbed Methane dan yang lainnya.

Patut untuk diketahui bahwa energi terbarukan berupa seperti, energi surya, angin, hidro, pabas bumi, biomas, biogas, arus laut dan yang lainn. EBT punya keunggulan dubanding dg batubara karena merupakan energi yang bersih ramah lingkungan karena nyaris tidak menghasilkan debu, CO2, NOx yang menjadi penyebab maupun pemicu utama pencemaran udara, hujan asam dan perubahan iklim. EBT sendiri sudah dikembangkan maupun diproduksikan di Indonesia kecuali Nuklir. 

Berita Terkait

Leave a reply