Agus BN Sebut Ahmad Bastian Layak Tersangka Karena Sangat Paham Setoran Proyek Lamsel

Atas penjualan beberapa aset, Alzier mengaku mendapat dana sekitar Rp5 miliar. “Aset yang dijual milik saya yang kepemilikannya sah dan dapat dibuktikan secara hukum. Proses jual-beli melalui notaris. Saya tahunya beres dan dibayar. Waktu itu, saya butuh dana cepat terkait Pilgub. Makanya meski harga jual termasuk murah, semua saya lepas. Sekarang, saya berminat untuk membelinya lagi, andai nanti dilelang oleh KPK,” papar Alzier.

Lantas apakah Alzier tidak curiga jika dana yang dipakai Zainudin atau Agus BN untuk membayar aset miliknya diperoleh dari hasil korupsi ?

“Ya jelas tidak, yang mulia. Saya kenal Zainudin Hasan sudah lama dari tahun 1999. Waktu itu yang bersangkutan memang sudah kaya. Pernah beberapa kali mencalonkan diri jadi kepala daerah. Begitu juga saudara Agus BN yang merupakan orang dekat atau tangan kanan Zainudin Hasan. Lagian tak mungkin juga saya menanyakan itu. Saya tahunya aset saya terjual dan dibayar. Tidak ada yang fiktif. Semua asetnya ada. Proses jual beli diikat dinotaris. Saya tahunya beres,” lanjut Alzier lagi.

Seusai sidang Alzier kembali berharap KPK mengusut semua pihak. Termasuk keterlibatan Wakil Bupati Lamsel Nanang Ermanto yang dalam persidangan diakui menerima suap uang ratusan juta rupiah dari para terdakwa. Kemudian pejabat dinas PUPR Sahroni. Serta pihak kontraktor dan beberapa pihak yang telah diperiksa KPK. Antara lain, calon anggota DPD RI, Bastian SY, serta Thomas Azis Riska, dan lainnya.

“Dalam hukum, jangankan Rp100juta, menikmati Rp1juta hasil korupsi, itu kejahatan. Lalu Sahroni, jelas disurat dakwaan berperan memuluskan praktek suap mengatur proyek di Lamsel. Kenapa ini tak diproses dan dibui. Bila perlu tetapkan sebagai tersangka TPPU. Usut semua, jangan hanya Zainudin Hasan,” tambahnya.

Berita Terkait

Leave a reply